Hukuman Terberat

 

“Hukuman yang paling berat bagi seorang pendosa, adalah perasaan bersalah”

Sungguh deh, coba setiap orang yang melakukan suatu  kesalahan, langsung mendapat balasan. Amat sangat yakin, kalo pada akhirnya kesalahan tersebut hanya terjadi satu kali alias tidak terulang. Sebagai contoh nih, kalo pencuri ketika sehabis mencuri yang jumlahnya melebihi nisab, otomatis tangannya hilang, pasti semua calon pencuri akan mikir lebih lama sebelum mencuri.

Tapi, sayangnya hal yang kek begini tidak akan terjadi.

Pernahkah, seorang pendosa merasa bersalah setelah melakukan perbuatan dosa ? Inilah yang sulit. Terlalu sering manusia melakukan dosa. Dan terlalu sering mereka merasa bersalah.

Padahal kalimat pembuka postingan ini berbunyi dengan jelas, bahwa perasaan bersalah adalah hukuman terberat bagi pendosa. Nah, nggak logis ya ?

Satu hal yang pasti, ketika manusia kehilangan perasaan bersalah dalam dirinya, itu menjadikannya bukan manusia. Yaudah, gampangnya perasaan bersalah itu timbul bersama perasaan menyesal. Pernahkah menyesali sesuatu ?

Yap, malam ini penulis menyadari bahwa salah satu sebab seseorang merasa menyesal adalah perasaan bersalah.

Have you ever killed anyone ?

Have you ever made other person sad ?

Andai saja, perasaan bersalah ini hadir di setiap hati para pendosa. Akankah mereka hidup tenang sebelum dosanya terampuni ?  That’s what I really felt.

Ya ALLAH, lunakkan hati hambaMu ini, agar senantiasa mampu merasakan perasaan bersalah pada setiap dosa-dosa yang pernah hamba perbuat.

Ya ALLAH, berilah hambaMu ini hati yang senantiasa tunduk kepadaMu.

Sesungguhnya ALLAH Maha Pengasih lagi Maha Pemurah, dan tak lupa, ALLAH Maha Pengampun :)

“kapan bertobat ?” | “lagi proses” | “dari dulu kok proses ?” | “it’s better than doing nothing” |

2012

Kalimat pembuka di postingan ini adalah :

“Tidak ada perbedaan kecuali akibat aturan penanggalan bahwa 2011 dan 2012 yang menyebabkan keduanya berbeda”

Tentu, perubahan tahun cuman akibat aturan penulisan penanggalan aja sih. Tapi selayaknya, sebagai manusia yang tidak berkeinginan untuk merugi, bermuhasabah itu diperlukan. Muhasabah ? Ah, entahlah.

Btw, tahun 2011 berakhir dengan cukup baik. Renovasi rumah tinggal udah selesai, dan Bapak pindah kerja di Jogja.

Bagaimana dengan 2012 ?

Well, sudah 1 bulan berjalan, and it’s very intersting :P

Amanah itu seperti musuh, tidak usah dicari tapi kalo ketemu ya harus dihadapi. Ya, situasi ini bergulir begitu aja ketika ada pergantian pengurus di Kamalogis (Ikatan Mahasiswa Teknologi Instrumentasi). Semoga deh Kamalogis ke depannya bisa berprestasi dan mampu membawa nama baik Jurusan Teknik Fisika UGM.

“Champion aren’t born. They’re made.” -Real Steel- cc : @bebencucu

Jabatan udah,  duit udah, kurang jodoh nih kalo kata @sulaksonoeckart hehehe

Ah, buat apa pacaran. Satu-satunya alasan paling logis orang berpacaran adalah, perasaan takut keduluan orang lain. Ini efek nonton dorama Puropozu Daisakusen (CMIIW). Dan dari dorama ini, teringat seseorang di masa lalu yang sama bodohnya sama Iwase Ken.

Oh sh*t, postingan ini bukan buat galau. *sorry kebawa situasi*

Hmm. Enjoy 2012 !

 

Munafik Tanpa Sadar

Oke, kali ini saya mengangkat ide mengenai kemunafikan. Fenomena kemunafikan ini sebenarnya ada banyak sekali, dan sudah sering dibahas di mimbar-mimbar dakwah maupun dari segi psikologis yang lain. Akan tetapi, akan lebih menarik lagi jika membahas kemunafikan dengan jalan yang sedikit berbeda dengan lainnya.

Sebagai pembuka, saya bisa membuat sebuah hipotesa sederhana mengenai hal ini, bahwa bibit kemunafikan itu ada dalam diri setiap orang. Entah kapan, dapat dipastikan jika saya, atau bahkan Anda sekalipun, pernah melakukan sebuah kemunafikan. Kemunafikan yang dibungkus dengan topeng kebaikan, yang diberi warna oleh etika maupun norma. Yah, hal tersebut wajar sekali terjadi.

Tentu setiap orang memiliki alasan tersendiri untuk melakukan kemunafikan, dan itu adalah sah-sah saja. Definisi munafik sendiri menurut saya adalah melakukan sesuatu yang berbeda dengan kehendak hati dan pikiran yang dipengaruhi oleh orang lain maupun keadaan sekitar. Tapi menurut sebuah hadits riwayat Bukhari – Muslim, munafik di sebutkan “Tanda orang-orang munafik itu ada tiga keadaan. Pertama, apabila berkata-kata ia berdusta. Kedua, apabila berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya”

Bahkan Anda sendiri bisa mendefinisikan sendiri secara bebas.

Sebuah hal yang salah kaprah adalah jika menyamakan atau memiripkan antara munafik dengan jaim.  Menurut saya pribadi sih, jaim itu tergantung dengan kondisi, kalo munafik itu bisa jadi sifat dasar. Di manapun, orang munafik tetaplah munafik. Akan tetapi, orang jaim hanya pada tempat dan situasi tertentu. In my opinion, sikap jaim itu sebenarnya sebuah bentuk jaga sikap yang salah. Kita ndak perlu jaga image, jika setiap saat kita mampu menjaga sikap kita tanpa memerdulikan situasi apapun.

Karena pada dasarnya sifat keduanya tersebut merupakan mekanisme pertahanan diri. Dan hal tersebut bisa saja terjadi tanpa disadari. Proses mekanisme tersebut merupakan klausa sebab-akibat, di mana kemunafikan merupakan akibat yang disebabkan oleh lingkungan/keadaan yang tidak menguntungkan.

Karena terkadang kita sebagai manusia bertingkah munafik tanpa sadar. Kita nggak sadar apa yang udah dikatakan dengan apa yang sedang dilakukan. Saya yakin kok, bahwa baik saya maupun Anda semua memiliki reaksi yang sama apabila dihina, yaitu langsung menyangkal.  Ada sih yang senyum-senyum aja pas dihina, tapi saya yakin kok kalo di hatinya ada perasaan dongkol dan penuh sangkalan.

“Kalo belum bisa memerbaiki diri, ga usahlah sok-sokan ngasi tau orang lain. “

Kalimat di atas sebenarnya ya ada benarnya juga, tapi ga sepenuhnya bener. Terkadang pandangan orang lain terhadap kita itu lebih obyektif daripada penilaian kita sendiri. Tapi jangan latah, omongan orang lain juga belum tentu bener. Menurut saya sih ya daripada repot-repot menasehati sampe mulut berbusa, saya yakin kok lebih manteb manjur kalo kita ngasih contoh lewat perbuatan aja.

Salah satu cara mengurangi kemunafikan ya itu tadi, jangan asal komentarin orang lain, belum tentu yang dikomentari lebih buruk. Trus ada lagi, kalo perbuatanmu cuman didasari karena adanya orang lain, coba hidup sendiri. Nah yang terakhir nih, kurangin omongan ga jelas, karena mau nggak mau, suatu hari nanti semua omongan bakal dipertanggungjawabkan.

Munafikkah saya ? Jelas. Masih.

Tapi, tulisan ini ya buat negur saya sendiri juga sih. Kapan ya saya ndak munafik lagi ? hehe

Sebuah hal yang sederhana tapi susah. Saya aja sampai saat ini masih belajar menjadi manusia yang tidak munafik.

 

Alangkah indahnya dunia tanpa kemunafikan.

Alhamdulillah, postingan kali ini bertepatan dengan bulan Sya’ban. Tandanya sebentar lagi masuk Ramadhan. Nah, apalagi pas Ramadhan, pasti kita bakal sering ketemu manusia insyaf sesaat. Yakni manusia yang kehilangan jatidirinya saat bulan Ramadhan. Istilahnya  “mendadak relijius”. Andaikan manusia tersebut dapet hidayah di bulan suci ini, dan terus istiqomah dalam hidup, saya ucapkan selamat kepada Anda J. Akan tetapi, jika ternyata tobatnya cuma satu bulan aja, saya ucapkan selamat semoga amal ibadah Anda diterima Allah SWT.

Subhannallah jiddan, jika seandainya saya maupun Anda, tidak hanya mendadak relijius saja, tapi juga menjadi sebenar-benar pemenang. Sebenar-benar manusia tanpa topeng pembungkus kebobrokan diri. Menjadi manusia seutuhnya, lahir maupun batin. Menjadi sepenuh-penuhnya manusia yang menikmati hidup tanpa terkekang kemunafikan.

Salam Sadar Kemunafikan !

Cinta Tanpa Kata 2 (Cinta dalam Diam)

CINTA DALAM DIAM

Jika belum siap, cintai dia dalam DIAM
Bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai dia dalam DIAM
Karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya..
Kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang..
Kau tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya..
Karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu
Menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu..
Karena diammu bukti kesetianmu padanya..
Karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah ALLAH SWT pilihkan untukmu
Ingatkah kalian tentang kisah Fatimah dan Ali?
Yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan,,
Tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah
Karena dalam diammu tersimpan kekuatan..
Kekuatan harapan..
Hingga mungkin saja ALLAH akan membuat harapan itu menjadi nyata..
Hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata.
Bukankah ALLAH tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap padanya?
Dan jika memang ‘cinta dalam diammu’ itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata,
Biarkan ia tetap diam..
Jika memang bukan milikmu,.
Toh ALLAH melalui waktu akan menghapus ‘cinta dalam diammu’ itu dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang tepat..
Biarkan ‘cinta dalam diammu’ itu menjadi memori tersendiri dari sudut hatimu..
Menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik Hatimu..
 

Hmm sepenggal kumpulan kata yang bisa dianggap seni di atas itu saya copy-paste dari note temen ( namanya Isna Mashita L ), yang kebetulan saya tagged di situ. Entah maksudnya apa, tapi saya cukup yakin bahwa temen saya itu sedang mengalami kegelisahan dalam cinta. Kalau lebih tepatnya Galau Jodoh.

Dari kata-katanya, saya menyebutnya “aroma ROHIS” tanpa maksud menjelekkan organisasi mulia tersebut. Seperti yang saya alami di masa SMA, di mana cinta didefinisikan sesuatu yang amat sangat sakral dan tabu untuk dirasakan sebelum saatnya. Tentu absurd sekali, cinta di sini adalah cinta antar lawan jenis.

Strict.

Yah, begitulah kondisi SMA saya terdahulu. Cinta Lawan Jenis dibatasi dengan sangat baik oleh aturan maupun pelajaran yang disampaikan di SMA. Alhamdulillah memang, saya dan kawan-kawan dijaga agar tidak keliru. Di sini saya belajar bagaimana seni untuk menahan cinta belum saatnya.

Seperti yang anda pernah lihat di film Ketika Cinta Bertasbih, Ayat-Ayat Cinta, hubungan antar lawan jenis dijaga sedemikian rupa sehingga kemaksiatan tidak terjadi. Kira-kira begitulah suasana di sekolah saya. Bagi sebagian orang, sangat tidak enak jika ndak boleh pacaran. Tapi, menurut saya ya memang yang benar kan begitu, walaupun yang pacaran juga ndak sepenuhnya salah. Bukan bermaksud menghakimi, tapi menurut saya itu sudah menjadi tanggungjawab tiap individu dalam memilih.

Namun, jangan dipikir bahwa dengan aturan ketat macam itu sekolah saya bebas dari pacaran. Hal tersebut malah menjadi suatu keasyikan tersendiri. Menjalin hubungan tidak jelas, tanpa status pacaran, tapi juga lebih dari sekedar teman. Bahkan saya sendiri pernah merasakan yang namanya cinta bukan saat yang tepat.

Pilihan satu-satunya bagi para ikhwan maupun akhwat yang masih berpegang teguh tidak ingin pacaran entah karena aturan atau kesadaran diri ya hanya pada kumpulan kalimat di atas. Cinta Dalam Diam.

Cinta yang tidak perlu dihaturkan.

Cinta yang tidak perlu dibuktikan.

Cinta yang tidak perlu dikorbankan.

Toh, sangat naive sekali, jika kita sudah menganggap pacar kita sekarang, atau orang yang kita suka, akan menjadi jodoh kita. Tapi, tidak ada salahnya mencoba. Saya bukanlah orang suci yang bersih dari dosa cinta. Bagi teman yang belum pernah merasakan cinta bukan saatnya, jaga hatimu. Bagi yang sedang berpacaran, mari kita berdoa, supaya pacar anda, atau orang yang anda sukai saat ini, adalah jodoh anda kelak. Dengan diiringi keyakinan bahwa Tuhan telah menciptakan manusia secara berpasang-pasangan.

Entah siapapun jodoh saya kelak.

Semoga kita mampu masuk surga bersama-bersama.

Renovasi Rumah

Setelah sekian lama, rumah eyang ane ini akhirnya direnovasi juga. Walaupun ane hidup selama 18 tahun di rumah joglo itu, tapi untungnya ga pernah di-weruh-i oleh something you might afraid for. Setidaknya rumah ini tempat ane tumbuh dan berkembang. Apalagi di joglo-nya, tempat ane sepedaan dan main bola semasa kecil.

Hmm berikut ini foto-foto renovasinya. Ide renovasi rumah sih sederhana aja. Diputar 90 derajat dan ditinggikan 1 meter.

 

Nah, ini nih rangka rumah joglo ane gan, itu pake kayu lama. Kalo diitung-itung sih 60-70% masih pake kayu lama, jadi nggak begitu makan banyak duit.

Nah, kalo gambar ini kalo joglo diliat dari bawah :

 

Bagi yang udah main ke rumah, pasti bakalan ngerasa beda. Jelas dong, pintu depan rumah ane udah jadi kek begini :

Begitu dulu ya,ntar ane update lagi hahaha

 

RE + Solusi

Resolusi = Re + Solusi = Rencana Perbaikan (Lagi)

Kata ajaib ini sering muncul di saat adanya pergantian periode, entah pergantian tahun Masehi, pergantian tahun ajaran baru, bahkan pergantian usia. Namun, bagi saya pribadi, membuat sebuah resolusi tidak perlu menunggu momen-momen tertentu. kenapa ? karena saya percaya bahwa Momentum itu bukanlah sesuatu yang pantas untuk ditunggu. Momentum itu ya dibuat aja bisa kok.

Percayalah bahwa saya bukan orang tipe imajinatif, cenderung realistis malah.

Tentu bagi sebagian masyarakat yang sangat percaya pada harapan dan mimpi, momentum itu hanya akan datang sekali dan datang jika kita berbuat yang baik. momentum malah seakan-akan menjadi sebuah akibat dari perbuatan yang kita lakukan. Sedangkan saya, momentum itu ya tujuan itu sendiri. Apa yang kita inginkan, ya itu jadi titik sasaran.

By the way, resolusi ini saya tulis tepat 12 hari menjelang UAS semester 4 di kampus biru.

Bukan melihat langit berpaling dari bumi, tapi ya namanya resolusi tetaplah halal walau agak non realistis. Simpel saja sih, untuk semester depan saya ingin sedikit memberi variasi warna pada kehidupan yang monoton ini. Keyakinan saya adalah,dengan melakukan resolusi, setidaknya jalan saya ke depan akan sedikit lebih terarah. Dan sekali lagi kawan, Momentum is something that you can create.

Oh ya, Selamat Menjalankan Ujian Akhir Semester, Remidiasi, dan Liburan bagi yang merayakannya.

 

Terjebak di Lorong Waktu part 1


If time travel is possible, then where are the

tourists from the future?

- S T E P H E N HAWKING -


Bentuk geometris dimensi waktu, masih menjadi misteri. Namun apabila didekati dengan ilmu tidak pasti, boleh dikatakan waktu adalah dimensi keempat. Kenapa didekati dengan ilmu tidak pasti ? Inilah yang disebut dengan Physics of Impossible, sebuah konsep teori tanpa kejelasan pasti.

 

Maka, bingung sendiri pasti, untuk menggambarkan bagaimana geometris waktu, di mana posisi/koordinat kita.

 

Bagaimana? Ada idekah untuk menggambarkan dimensi waktu ?

 

Einstein harusnya bertanggungjawab atas pertanyaan jutaan anak-anak yang nonton kartun Jepang, Doraemon. Anak kecil yang tidak pernah naik kelas dan parahnya, Nobita selalu gagal dalam ujian berulangkali. Cukup masuk laci meja belajarnya, so that u can travel ke tahun mana saja.

 

Kenapa harus Einstein yang bertanggungjawab?

 

Alasannya gampang, Einstein memiliki teori bahwa semua benda di universe, punya kecepatan yang paling cepat, limit pada kecepatan cahaya yang besarnya “tiga kali sepuluh pangkat delapan meter tiap detik”. Tapi, kalo menilik ke ancestor classic physics, Newton, semua benda kecepatannya bisa lebih dari kecepatan cahaya, sebanding. Ingat hukum Newton yang terkenal itu. F = m.a

 

Di sini tanggungjawab Einstein dimulai, dengan memadukan hukum Newton tentang Mekanika klasik, dan hukum Maxwell dengan gelombang elektromagnetiknya, didapatkanlah sebuah hukum yang terkenal di jamannya, awal abad 20, yaitu hukum relativitas.

Hukum relativitas, melambungkan nama Einstein hingga sekarang foto melet mbah Einstein nongkrong di kaos-kaos atau dijadikan maskot Fisika sekarang.

Bagi orang yang beragama dan beriman (beragama saja tidak cukup) hati-hatilah dalam mempelajari Physics of Impossible, salah sedikit dalam pemahaman, bisa buyar pondasi iman dalam sekejap. Ya, dampak kecilnya, dapat nilai tidak lulus pada mata kuliah fisika modern.

 

Di sini, pembahasan mengenai lorong waktu, terfokus pada pribadi yang tidak terjebak, tetapi pada pribadi yang tidak sadar bahwa terjebak. mirip memang, beda di sini hanya pada kenyataan dan ilusi semata. Pribadi yang terjebak, pada kenyataanya tidak terjebak, tapi terjebak dalam ilusi.

 

Ada sebuah teori yang mengatakan, apabila sebuah roket meluncur dengan kecepatan cahaya, maka roket tersebut akan mengalami penambahan massa dan di dalam roket itu, waktu berhenti. Dan kalo kita jadi penumpang di pesawat dengan kecepatan cahaya, kita bakal awet muda dibandingkan dengan mereka yang ada di Bumi.

 

Bayangkan di jari-jari planet bumi, ada lintasan rel dengan kereta ekonomi berwarna kuning terdiri dari 3-4 gerbong, dengan harga tiket 9 ribu rupiah, bernama Prambanan Ekspress berjalan dengan kecepatan cahaya memutari bumi tepat pada jari-jarinya. Pada saat yang sama, mbak-mas penjual minuman melaju searah dengan laju kereta api. Dapat dikatakan bahwa kecepatan mbak-mas penjual minuman akan lebih cepat dari kecepatan Prambanan Ekspress berkecepatan cahaya. Kira-kira apa efek yang akan muncul ? apakah waktu menjadi variabel yang tidak terkait?

 

Saya rasa, hanya ada 2 orang di dunia ini yang bisa menjawabnya entah dengan benar atau salah.

1. Doraemon


2. Einstein

Walaupun kebenaran mutlak tetap milik Allah SWT, andaikan waktu berhenti, terus maju, atau bahkan mundur sekalipun, semoga kita masih berada dalam Jalan Rahmat, Islam.

Tulisan di atas hanyalah bentuk olah pikir mahasiswa dengan nilai D untuk mata kuliah Fisika Modernnya. Segala kejadian yang berhubungan dengan tulisan ini, menjadi tanggungjawab para pembaca. Dikutip dari Physics of Impossible – Michio Kaku -

 

Cinta Tanpa Kata part 1

Mengungkapkan cinta melalui kata, ucapan, adalah hal yang paling mudah dilakukan. Tidak butuh duit, nggak butuh mobil keren, tapi cuma lewat kata-kata yang pas, cewek bisa bertekuk lutut. Belajarnya di mana ya ? Pengalaman.

Suatu hari di sebuah percakapan sepasang sejoli, sebut saja Belalang dan Tulip.

Belalang : “Eh Tulip, Ayah kamu polisi ya ?”

Tulip : “Lho, kok kamu bisa tau sih ?”

Belalang : “Karena kalo dekat kamu, hatiku rasanya terpenjara.”

Puitis kah? Bukan . Itu gombal.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikanya abu

Aku ingin mecintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sapardi Djoko Damono, (1989)

Gombal? Bukan. Itu puitis.

Bisa saja Pak Sapardi yang lagi kasmaran mengungkapkan perasaan cintanya lewat kata. Lantas, bedanya apa dong antara gombal dengan puitis ?

Nah di sinilah letaknya seni. Seni keindahan. Seni keindahan rangkaian kata, rangkaian makna. Nah, berhubung saya kurang paham tentang diksi dan hal lain tentang sastra, mari kita nikmati saja :D

Terkadang orang salah mengartikan antara puitis dan gombal. Tentu, cewek akan bilang ‘Ah, gombal kamu’ tapi dalam hatinya ia berbunga-bunga menerima gombalan itu. Hal yang berbeda tentu akan terjadi kalo si cowoknya mengeluarkan puisi yang njlimet sususan katanya. Wajar, tidak semua orang bisa menikmati puisi secara penuh. Tentu sarana nggombal ndak cuma lewat puisi aja, bisa lewat lagu yang romantis, dengan lirik penuh janji mencinta. Contohnya, ini :

If You’re Not The One (Daniel Beddingfield)

If you’re not the one then why does my soul feel glad, today
If you’re not the one then why does my hand fit yours, this way
If you are not mine then why does your heart return, my call
If you are not mine would I have the strength to stand, at all

I never know what the future brings
But I know you’re here with me now
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life with

[#:]
I don’t want to run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I can stay, in your arms~?

If I don’t need you then why am I crying on, my bed?
If I don’t need you then why does your name resound, in my head?
If you’re not for me then why does this distance maim, my life?
If you’re not for me then why do I dream of you, as my wife?

I don’t know why you’re so far away
But I know that this much is true
We’ll make it through


And I hope you are the one I share my life with
And I wish that you could be the one I die with
And I pray in you’re the one I build my home with
I hope I love you all my life

[#]

[Bridge:]
Cause I miss you, body and soul so strong that it takes my breath away
And I breathe you into my heart and pray for the strength to stand today
Cause I love you, whether it’s wrong or right
And though I can’t be with you tonight
You know my heart is by your side

Wuih, romantis banget ya.  Tapi apa benar? Cinta itu hanya sebatas kata ?

Di sinilah kata-kata terlihat berperan penting. Yah, kemampuan ‘nyocot alus’ ini ndak semua orang bisa, apalagi untuk tipe pemalu. Saya pernah membaca bahwa komunikasi yang sukses itu disusun atas mayoritas dari body language(70%) dan sisanya lewat kata-kata dan lainnya. Masih ingatkah tentang film animasi dengan  judul “UP” ? yak, di film itu sekitar beberapa menit awal diisi kisah cinta kakek nenek sewaktu muda hingga maut terpisahkan. Kisah mereka digambarkan dengan sangat jelas,  mudah dipahami, dan tanpa dialog.

Bahkan senyuman pun memiliki arti yang tidak sekedar tarikan otot disekitar mulut, tapi lebih.

Cinta tanpa kata ini juga sangat terlihat antara hubungan Ibu dan anak. Seorang ibu memiliki sense yang sangat kuat terhadap anaknya, bahkan seorang ibu bisa tau kalo anaknya lagi kenapa-kenapa, sakit contohnya. Apa karena antara ibu dan anak ada semacam gelombang elektromagnetik yang memancar dengan cepat? Sejauh ini belum ada temuan seperti itu.

Aku ga usah ngasih tau, dia udah paham kok maksudku. Kira-kira seperti itu gambarannya.

Ya, cinta tanpa kata.

Bersambung~

 

Mengingat Kembali

Setiap pribadi memiliki definisi tersendiri tentang makna “kenangan”. Gelap. Suram. Cerah. Indah. Seru. Sedih. Kelam. Lurus. Berkelok. Dan masih banyak lagi macam deskripsi kenangan yang bisa muncul. Tentu karena ya persepsi seseorang dalam menjalani hidup dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa bisa sangat amat berbeda. Jika diumpamakan seorang pelari dan seorang pejalan kaki. Pelari hanya akan focus pada garis finish, tidak menghiraukan sekeliling. Kalo pejalan kaki, menikmati setiap detik, setiap hembusan angin, setiap panorama yang ada. Begitu pula dengan hidup. Terkadang hal-hal yang “out of sight” itu bisa jadi makna.

Kebetulan nih Akbar pulang dari Jogja dengan membawa ke-suntuk-an. Tidak jelas, mungkin labil, tapi lebih tepat disebut gojag-gajeg yang sangat. Kalo bahasa sekarang sih G.A.L.A.U. Meluncurlah Akbar dengan kereta ekonomi Prambanan Ekspress ( baca: Prameks). Tiba di stasiun Purwosari, ndak biasanya Akbar tiba-tiba ndak mau dijemput. Pengen jalan-jalan. Setelah jalan sekitar 6 kilometer di siang terik, Akbar mampir makan di warung Tahu Kupat, beda dengan Kupat Tahu. Warung ini bersahaja sekali. Terang oleh cahaya siang. Ramai orang lalu lalang. Truk dan Mobil membuat bayang. Kok “bayang” ? Jelas, mobil/truk yang kalo lewat nutupin cahaya dari jalan raya. Penjual Tahu Kupatnya? Seorang ibu setengah abad dengan keramahan khas orang Jawa. Sudah 19 tahun lebih lewat jalan ini, tapi ndak ngerti ada penjual Tahu Kupat yang lumayan enak, murah pula.

Lanjut pulang, nunggu Angkot 02.

Menunggu itu membosankan.

Menunggu itu ndak enak.

Menunggu? Dan lain hal, yang biasanya ga enak.

Sejenak ingatan jaman SMP terputar kembali di otak.

Kenangan nunggu Angkot 02 siang-siang. Ternyata udah lama juga. Pas jaman SMP, naik angkot bareng salah satu teman SMP cewek. Masih pada jaim dan ndak berani kenalan. Eh taunya sekarang udah jadi teman dan dia kuliah di UI.

Kenangan Angkot 02 yang kalo nunggunya pasti lama.

Kenangan Angkot 02 yang jalannya pelan-pelan.

Kenangan Angkot 02 yang selalu penuh anak madrasah tsanawiyah.

Kenangan Angkot 02 yang penuh orang-orang daerah pinggiran kota Solo.

Kenangan Angkot 02 yang ndak mengalami perubahan signifikan.

Kenangan Angkot 02 yang seakan jadi miniature Indonesia.

Ya, miniature.

Bagaimana ndak ? Lha wong orang yang naik angkot dari berbagai kalangan, kecuali politisi dan pejabat tinggi.

Bagaimana ndak ? Lha wong fungsinya Angkot sama dengan fungsi Pemerintah. Melayani masyarakat.

Bagaimana ndak ? Lha wong supirnya bak Presiden yang bisa seenaknya kasih kebijakan nurunin penumpang di mana aja.

6 tahun yang lalu.

Di atas Angkot 02.

Dan sekarang.

Sama saja.

Mengejar Cinta SMP

Kisah ini bukan berarti Akbar yang mengalami, bukan pula temannya. Bisa jadi kisah ini terinspirasi oleh siapapun, oleh keadaan apapun, dan di manapun, kapanpun.

Mengapa Cinta SMP ? Ya, pas SMP kan saatnya puber, lagipula akan lebih seru kalo waktu anak SMP, masih pure innocent.

Tentunya, kita pernah mengenal yg namanya suka sama seseorang yang lawan jenis (kasus sesama jenis tidak dibahas di sini), istilahnya gebetan, entah sekedar kagum atau penasaran.

Suatu ketika, si Fulan yang lagi sekolah di SMP kelas 3, ketemu sama pujaan hatinya yang sebut saja Mawar.

Oh,nggak jadi Mawar tapi sebut saja Fulanah soalnya kalo Mawar seakan jadi korban kejahatan :P

Entah alasan si Fulan seneng sama Fulanah ndak dijelaskan di sini, karena akan dibahas di chapter selanjutnya

Nah, si Fulanah ini kebetulan dianter ke sekolah sama Bapaknya. Kebetulan di saat yang tidak terduga, Fulan tadi jadi liat deh bapaknya Fulanah.

Fulan : “Ooh, ini tho Bapaknya Fulanah, naik apa ya ke sini?”

Eh,pas di depan sekolah, nangkringlah sebuah mobil berwarna biru. Oleh Fulan, mobil itu dicurigai sebagai mob

il hasil keringat bapak si Fulanah.

Fulan : “Owalaah jadi ini tho mobil yang nganterin Fulanah ke sekolah, perasaan sering ketemu di jalan deh.”

Walhasil dari kesimpulan pendek  itulah, setiap si Fulan ada di jalan, entah di manapun, kapanpun, kalo ngeliat mobil warna biru pasti disangkanya mobil bapaknya Fulanah dengan harapan pujaan hatinya itu ada di mobil yang sama.

Setelah si Fulan beranjak dewasa, udah mudeng sama yang namanya wordpress, udah kenal sama yang namanya Fesbuk, akhirnya dia menyimpulkan lagi.

Fulan : “Astaga. Ternyata mobil biru itu Mobil Dinas Kepala Sekolah SMP.”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.